Tiada Tara

pengertian-sastra-indonesia

Tiada Tara

Tara bersiap untuk berangkat sekolah. Dilihatnya seragam putih abu-abu yang membalut tubuhnya. Diperiksanya pula jam tangan, gelang, bando dan ikat rambut yang semua bernuansa merah muda.
“Aku siap!” ucapnya mantap diiringi senyum mengembang di sudut bibirnya.
Dengan segera, Ia bergegas keluar kamar untuk sarapan.
“Lho kok udah jam segini sih? Perasaan tadi udah bangun pagi deh..” ucap Tara setengah kesal sambil melirik jam tangan merah mudanya.
“Ya kamunya juga sih Ra, dandan aja lama banget.” ucap mama Tara sambil menyiapkan sarapan untuk Tara.
“Ya kan hari ini hari pertama Tara jadi anak SMA ma. Biar kesan pertamanya bagus gitu. Hehe..” ucap Tara sambil memasukkan sebuah anggur ke dalam mulutnya.
“Ada-ada aja kamu Ra..” ucap mama sambil mengulum senyum.
“Aduh gawat, lupa!! Mama.. Tara berangkat dulu yaa.. Keburu telat nih. Assalamualaikum..” segera disambarnya tangan mamanya untuk berpamitan dan langsung bergegas keluar rumah dengan senyum lebar.
“Tara.. Tara..” ucap mama Tara dengan senyum lembut sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan.

Bel tanda sekolah usai pun berkumandang. Segera Tara dan teman-temannya yang lain beres-beres dan bergegas pulang ke rumah masih-masing.
“Kamu dijemput Ren?” tanya Tara kepada Rena, sahabat barunya, sambil mengeluarkan buku-bukunya dari laci meja.
“Iya, aku dijemput kakakku. Sini aku bantu bawain buku kamu.” ucap Rena sambil membantu membawa sebagian buku-buku Tara.
“Iya, makasih Ren.” ucap Tara sambil tertawa kecil.
Hari ini ada pembagian buku pemkot dari sekolah dan membuat Tara harus membopongnya karena tas Tara yang tidak muat. Untung saja ada Rena yang mau membantu membawakan sebagian buku Tara yang besar-besar itu.
Setelah setengah perjalanan keluar sekolah, Tara baru ingat kalau masih ada satu buku lagi yang tertinggal. Karena tadi laci Tara tidak muat, buku tersebut Tara simpan di laci meja kosong di belakang.
“Aduh.. Aku lupa Ren. Masih ada satu buku lagi di kelas. Kamu duluan keluar aja nanti aku nyusul.” tanpa meminta jawaban dari Rena, Tara langsung berlari kecil kembali ke kelas sambil membopong buku-buku paketnya.
Setelah sampai di depan pintu kelasnya, Tara berhenti sebentar sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Fiiuuuuhh… Setelah dirasa cukup tenang barulah Tara masuk ke kelas untuk mengambil buku yang tertinggal tadi. Kelas Tara yang sudah sepi membuat Tara menjadi paranoid. Langsung disambarnya buku tersebut lalu segera pergi lari meninggalkan kelas.
“Untuuuung…” napas Tara yang ngos-ngosan membuat Ia berhenti sejenak mengatur napas sampai tenang.
Tak berapa lama Tara menjadi ketakutan lagi. Lalu Ia segera keluar sekolah untuk menyusul Rena. Saking paranoidnya, Tara sampai tidak melihat sekeliling saat berlari. Tiba-tiba Ia menabrak seseorang. Buuggh!!!
“Aduh, maaf saya nggak sengaja..” ucap Tara lemah. Buku-buku Tara berceceran kemana-mana. Lalu dilihatnya orang yang ada didepannya itu, ‘wow’, batin Tara.
“Kamu nggak kenapa-napa kan? Kok kamu pucet banget sih? tanya si cowok khawatir lalu membantu merapikan buku-buku Tara yang berceceran karena melihat Tara yang sedari tadi hanya duduk terdiam entah kenapa.
“I..iya.. kak..” jawab Tara gugup. Tara terpana melihat cowok jakung didepannya itu. Wajah pucatnya seketika pudar menjadi cerah dan rasa lelahnya pun sirna. Kedua mata Tara menatap lurus cowok itu.” Ya ampuuun… Ini kakak cakep banget sih …” ucap Tara dalam hati.
“Ini buku kamu. Lain kali hati-hati ya. Masih bisa berdirikan?” ucap si cowok dengan nada lembut dan senyum mengembang. Setelah buku-buku Tara selesai diamankan, cowok itu membantu Tara berdiri. Tanpa berkata apa-apa, cowok itu langsung pergi menuju tempat parkir dan meninggalkan Tara yang sedang berdiri seperti patung. Terpesona. Bahkan sampai si cowok sudah tidak terlihat lagi, masih bisa Tara rasakan detak jantungnya yang sedari tadi berdebug kencang. Sambil senyum-senyum tidak jelas, Tara mengingat senyum kakak itu yang begitu manis diingatannya.
Iya. Itu adalah cerita Tara 2 tahun lalu. Cerita ketika untuk pertama kalinya Ia bertemu dengan cowok itu, kak Edo namanya.
Seringkali Tara mengingat kisah-kisahnya dulu bersama kak Edo. Entah manis, entah pahit, yang pasti dia selalu bahagia ketika mengingatnya karena dia tahu dia tidak akan pernah merasakannya lagi.
Kak Edo meninggal akibat kecelakaan saat akan pergi ke sebuah restaurant. Hari itu adalah hari ulang tahunnya. Sebelumnya, Tara berencana memberikan surprise untuk kak Edo. Ia telah menyiapkan birthday party dan special gift untuk kak Edo. Tara telah membayangkan bagaimana bahagianya kak Edo saat Ia beri kejutan. ‘Pasti kak Edo akan suka dan akan terus tersenyum di sepanjang hari ini’, pikir Tara gembira.
Namun, 1 jam, 2 jam, 3 jam, kak Edo belum juga datang. Raut wajah Tara yang awalnya ceria menjadi muram. Puluhan panggilan dan pesan yang Tara kirim pun tidak ada yang dibalas. Sampai akhirnya ringtone handphone Tara berdering. ‘Syukurlah, Ini pasti kak Edo.’ Tanpa melihat siapa yang menelepon, Tara langsung menjawabnya.
“Kak Edo?”, ucap Tara girang.
“Tara..”, suara di ujung telepon terdengar sangat lemah. Telepon dari Rena.
“Oh ini Rena? Sorry aku kira kak Edo. Abis udah 3 jam lebih aku nunggu kak Edo belum datang-datang juga.” ucap Tara kembali dengan wajah muram.
“Iya Tar, aku tau. Mendingan kamu segera pulang aja deh.” ucap Rena masih dengan nada lemah.
“Pulang gimana? Lha kak Edo gimana?” ujar Tara polos.
“Dia nggak akan datang Tar.. Coba liat udah berapa jam kamu nunggu dan dia belum datang juga kan Tar? Dia nggak akan pernah datang Tara..” jawab Rena dengan nada sedih.
“Dia pasti datang. Dia kan udah janji mau datang. Kamu kenapa sih? Kok suara kamu kayak sedih gitu?” tanya Tara bingung.
“Tara, barusan aku dapet kabar..” ucap Rena dengan suara parau.
“Kabar apa Ren? Kamu kenapa sih kok dari tadi ngomongnya aneh gitu. Ada apa?” tanya Tara penasaran.
“Kak Edo, Tar… kak Edo…” ucap Rena bingung berkata-kata.
“Kak Edo? Kak Edo kenapa Ren?” suara Tara ikut parau.
“Kak Edo… meninggal Tar… Dia kecelakaan di perjalanan ke restaurant.” jawab Rena sambil menangis.
Deg. Handphone Tara yang ada di genggamannya terjatuh. Masih terdengar sayup-sayup suara Rena memanggil nama Tara berulang-ulang namun Tara abaikan. Badan Tara langsung lemas serasa mau melayang. Aliran darah seperti membeku. Seluruh badannya gemetar. Wajahnya seketika memucat. Pikirannya melayang-layang. Hanya bayangan kak Edo yang sedang ada di pikirannya saat ini. Tiba-tiba Tara kehilangan keseimbangan. Bugh. Tara pingsan.
Sejak saat itu Tara menjalani hidup seperti ini. Hidup bak jam yang berhenti berdetak. Tak ada lagi Tara yang ceria. Hari-harinya hanya dia habiskan untuk mengenang kisahnya dengan kak Edo dulu. Tara juga tidak mengerti kenapa Ia belum bisa melupakan kak Edo. Yang dia tahu hanyalah terus menerus mengingatnya membuat Tara lega.

Hari ini adalah tepat 2 tahun kak Edo telah meninggal dunia. Meninggalkan Tara namun membawa secuil hati Tara hingga kini. Hingga kini pula Rena, sahabat Tara, selalu menghiburnya. Banyak hal yang telah Rena lakukan untuk membuat Tara agar bisa melupakan kak Edo. Namun hasilnya pun sia-sia.
“Lo tau gak Tar, gue sedih liat lo kayak gini ..” ucap Rena dengan nada khawatir.
“Gue baik-baik aja Ren. Udah deh gak usah mikirin gue.” ucap Tara pelan.
“Tara, lo udah bener-bener berubah sejak kak Edo meninggal. Dimana Tara yang gue kenal dulu? Dimana Tara yang selalu ceria? Sekarang udah nggak ada lagi.” ucap Rena dengan nada sedikit tinggi.
“Gue masih kayak dulu kok. Udah lah Ren..” ucap Tara ringan.
“Tara.. Tara.. Percuma aja yang udah gue lakuin buat elo. Semua nasehat dan saran gue agar lo bisa lupain kak Edo sia-sia. Bukannya apa-apa, tapi gue cuma pengen elo bahagia Tar. Gue gak pengen liat lo sedih mulu..” ucap Rena sedih.
“Gue tau, makasih Ren. Tapi untuk saat ini biarin gue ngelakuin apa yang pengen gue lakuin. Mungkin ini belum saatnya aja..” ucap Tara.
“Enggak, ini udah saatnya elo lupain kak Edo Tar. Sekarang kita udah kelas 3 SMA. Udah 2 tahun lo hidup kaya gini. Kasihan nyokap lo liat elo sedih mulu.. Gue tau dan yakin kalo elo bisa Tar! Udah deh yakinin diri lo sendiri. Gue pamit pulang dulu.” ucap Rena membujuk Tara sembari bersiap untuk pulang. Tanpa menunggu jawaban Tara, Rena langsung pergi meninggalkan rumah Tara.
“Iya. Rena bener. Makasih banget Ren, elo memang sahabat terbaik yang gue punya.” ucap Tara lirih mengiringi kepergian Rena.
Tak berapa lama terdengar suara nyala mesin motor menandakan kepulangan Rena. Tara bersandar di belakang pintu kamarnya memikirkan ucapan Rena. Lalu Tara beranjak berdiri dan duduk di kursi belajarnya. Diambilnya sebuah pena dan buku diary. Ia menuliskan sesuatu.

Sepatah kata rinduku

Engkau bagaikan air
Yang mengalirkan seluruh rasa sayangku
Engkau bagaikan api
Yang selalu hangat dan menghangatkanku
Engkau bagaikan tanah
Yang selalu kuat dan tegar menghadapiku
Engkau bagaikan udara
Tak terlihat tak tersentuh, namun terasa di dalam hati

Ingin rasanya aku bertemu
Bertegur sapa dalam canda
Berbalas kata dalam tawa
Berbagi rasa dalam makna

Izinkan aku mengucap sepatah kata rinduku
Hanya secuil kata dalam jutaan rasa di jiwa
Namun, apakah ini cukup bermakna untukmu?
Cukupkah untuk membawamu kembali di sisiku?

Ah, sepertinya hanya diangan
Kini aku telah mengerti sayang
Semoga engkau selalu bahagia
Bersama-Nya, Sang Maha Pencipta

Tara menghentikan penanya. Ia tidak sanggup meneruskan kalimat tersebut. Satu kata terakhir untuk menutup sepatah kata rindunya. Diusapnya air mata yang sedari tadi menempel di pipi. Tara sedang berusaha. Berusaha mengobati luka batinnya yang terkoyak. Tara telah sadar bahwa hidup jauh lebih bermakna apabila hanya dia habiskan dengan bersedih.
‘Rena benar. Ini sudah saatnya aku melupakan kak Edo dan hidup seperti dulu lagi. Here we go, Tara yang ceria!’ batin Tara sambil tersenyum dan mengangguk mantap.

Keesokan harinya mamaTara heran melihat Tara yang begitu bahagia. Walaupun tidak tau alasan Tara menjadi bahagia, beliau senang melihat Tara kembali seperti dulu lagi. Melihat Tara yang begitu ceria, mama Tara yang sedang sibuk menyiapkan sarapan masih sempat mengembangkan senyuman lembut di sudut bibirnya. Tara hanya senyam-senyum menahan malu. Tak berapa lama, hp Tara berdering. Panggilan masuk dari Rena. Tara yang sedang menikmati sarapan dengan mamanya, segera menerima panggilan masuk tersebut.
“Halo.” suara Rena terdengar lembut.
“Rena?” ucap Tara senang.
“Elo nggak kenapa-napa kan Tar?” tanya Rena khawatir.
“Gue gak kenapa-napa kok Ren. Gue malah mau berterima kasih sama elo karena elo udah bantu gue untuk sadar buat enggak sedih lagi. Sekarang gue udah berubah seperti dulu lagi. Udah nggak ada lagi Tara yang elo liat selama 2 tahun ini. Lo bener. Gue salah. Gue pikir dengan gue terus mengingat kak Edo gue akan merasa lega. Padahal itu hanya membuat gue terus-terusan sedih ditambah orang tua dan teman-teman gue juga ikutan pada sedih. Makasih Ren, lo memang sahabat terbaik.” ucap Tara dengan senyum mengembang.
“Iya Tar, sama-sama. Gue seneng elo kembali seperti dulu lagi. Sekarang elo hanya perlu belajar untuk membuka hati lo untuk orang lain. Masih banyak kok cowok kaya kak Edo di sekeliling lo yang bisa buat lo bahagia.” ucap Rena lembut.
“Ah elo apaan sih Ren..” ucap Tara malu-malu sambil mengusap pipinya yang sedikit basah.
“Di ‘iyain’ aja napa. Haha bercandaa.. Eh Tar udah dulu ya, pulsa gue mau abis nih. O iya, semalem udah belajar belum? Nanti kan ada ulangan kimia.” ucap Rena.
“Asstagaaaa!! Gue lupa Ren.. Adduuuhh, gue belum belajaaarr!!” teriak Tara.
“Waduh. Ya berarti elo tinggal nunggu dapet telur dadar aja dari pak kumis. Haha.” ucap Rena sambil tertawa pelan.
“Ah, sialan lo. Jangan gitu dong. Entar lo ajarin gue dulu ya materi kimia yang tentang koligatif larutan. Puyeng nih. Hehe.” celutuk Tara.
“Ini baru Tara yang gue kenal.. Haha. Iya tenang aja. Buruan berangkat gih, gue tunggu di kelas.” ucap Rena.
“Okay!” ucap Tara gembira.
Tara menutup sambungan teleponnya dengan Rena. Senyuman lebar terpancar dari wajah cantiknya. ‘Aku siap!’ batin Tara dalam hati. Tara bersiap melanjutkan hari-harinya dengan antusias. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Ya, itu adalah motto yang telah Tara anut sejak satu menit yang lalu. Tara ingin menebus kembali waktu yang telah Ia buang dengan sia-sia dan berharap hari esok yang lebih baik. Semoga saja. ^^

TAMAT

Comments

comments