About Green Chemistry

GA

Ledakan penduduk dunia yang semakin meningkat, ketersediaan sumber daya alam yang semakin menipis, meningkatnya polusi, perubahan iklim, dan berbagai alasan senada lainnya telah memaksa para ilmuwan, khususnya kimiawan berpikir keras bagaimana alam ini tetap seimbang, sejuk, aman, dan berkelanjutan untuk dinikmati anak cucu kita kelak. Di sini kita akan ketahui betapa pentingnya peran green chemistry (kimia yang bersahabat dengan alam).  Green chemistry, juga dikenal sebagai sustainable chemistry atau kimia yang berkelanjutan, adalah desain produk dan proses kimia yang mengurangi atau menghilangkan penggunaan maupun produksi zat berbahaya. Green chemistry berlaku di seluruh siklus hidup dari produk kimia, termasuk desain, manufaktur, sampai pada penggunaannya.

Green Chemistry adalah suatu falsafah atau konsep yang mendorong desain dari sebuah produk ataupun proses yang mengurangi ataupun mengeliminir penggunaan dan penghasilan zat-zat (substansi) berbahaya sehingga ramah lingkungan. Konsep Green Chemistry itu sendiri berasal dari Kimia Organik, Kimia Anorganik, Biokimia, dan Kima Analitik. Bagaimanapun juga, konsep ini cenderung mengarah ke aplikasi pada sektor industri. Green Chemistry berbeda dengan Environmental Chemistry (Kimia Lingkungan). Perbedaannya adalah sebagai berikut. Green Chemistrylebih berfokus pada usaha untuk meminimalisir penghasilan zat-zat berbahaya dan memaksimalkan efisiensi dari penggunaan zat-zat (substansi) kimia. Sedangkan Environmental Chemistry lebih menekankan pada fenomena lingkungan yang telah tercemar oleh substansi-substansi kimia. Alasan utama dan tak bisa dibantah lagi karena hampir semua aspek dalam kehidupan sehari–hari berkaitan dengan produk kimia. Kedua perkembangan produk kimia telah menimbulkan masalah baru bagi lingkungan dan kesehatan bahkan efek-efek lain yang belum diketahui. Salah satu contoh adalah pemakaian pestisida DDT. Mendorong pencegahan terhadap polusi mulai dari tingkat molekuler melalui desain sintesis dan mendukung lebih lanjut penemuan proses kimia yang lebih ramah lingkungan  yang tidak hanya dapat mengurangi sisa bahan beracun tapi menghilangkan sama sekali subtansi-substansi yang berpotensi racun dan berbahaya.

Teknologi green chemistry memberikan sejumlah manfaat, antara lain  mengurangi limbah, mengurangi biaya perawatan pipa yang mahal, produk yang lebih aman, mengurangi penggunaan energi dan sumber daya alam tak terbarukan, dan meningkatkan daya saing pabrik kimia terhadap pelanggan mereka. Berikut ini kita bahas beberapa prinsip green chemistry yang paling penting. Paul Anastas Bapak Green Chemistry bersama John C.Warner telah mengembangkan 12 prinsip Green Chemistry yang dapat menterjemahkan teori menjadi tindakan. Adapun 12 prinsip yang dijadikan pedoman untuk kampanye gerakan Green Chemistry ini adalah:

1)    Prevention (Mencegah limbah): Mendesain sintesa kimiawi untuk mencegah limbah, daripada mengolah atau membersihkan limbah.

contoh-pemanfaatan-limbah-untuk-kehidupan-sehari-hari1

2)    Atom Economy (Memaksimalkan ekonomi atom): Mendesain sintesa agar produk akhir mengandung proporsi maksimum dari materi awal yang digunakan. Kalau ada atom yang terbuang, sebaiknya hanya sedikit.

ekonomi energi

3)    Less Hazardous Chemical Syntheses (Mendesain sintesis kimia yang tak berbahaya): Mendesain sintesa untuk digunakan dan menghasilkan zat kimia yang tidak atau hanya sedikit menjadi racun bagi manusia dan lingkungannya atau mengurangi bahaya bahan kimia.

Botol-minum-no-BPA

4)    Designing Safer Chemicals (Mendesain zat kimiawi dan produk kimiawi yang aman): Mendesain sintesa untuk digunakan dan menghasilkan zat kimia yang aman.

sabun

5)    Safer solvents and Auxiliaries (Gunakan pelarut dan kondisi reaksi yang aman): Hindari penggunaan pelarut, agen pemisahan, atau pelengkap kimia lain yang berbahaya.

kimia1

6)    Design for energy efficiency (Tingkatkan efisiensi energi): reaksi kimia dilakukan pada suhu  dan tekanan yang sesuai dengan lingkungan agar energy yang diperlukan dalam prosesnya lebih sedikit.

EBT

7)    Use of Renewable Feedstocks (Menggunakan bahan baku yang bisa diperbarui):  Menggunakan material dan bahan baku yang bisa diperbarui dari pada yang tidak bisa diperbarui. Bahan baku yang bisa diperbarui biasanya dibuat dari produk agrikultur atau merupakan limbah dari proses, sedangkan bahan baku yang tidak bisa diperbarui berasal dari fosil atau merupakan hasil tambang.

3

8)    Reduce Derivatives (Menghindari turunan senyawa kimia) : Menghindari penggunaan senyawa derivative jika memungkinkan. Senyawa derivative menggunakan bahan reaksi tambahan dan menghasilkan limbah.

molecules-in-beaker

9)    Catalysis (Menggunakan pengkatalis): Meminimalkan limbah dengan reaksi katalik.

katalis

10)  Design for Degradation (Mendesain zat kimia dan produk yang dapat terurai setelah digunakan): Mendesain produk kimiawi yang terurai ke dalam zat yang tidak berbahaya setelah digunakan supaya tidak terakumulasi dalam lingkungan.

cara-membuat-pewango

11)  Real-time analysis for Pollution Prevention (Menganalisa dalam waktu sesungguhnya untuk mencegah polusi): Melakukan pemantauan dan pengontrolan waktu sesunggunya selama sintesis berlangsung untuk meminimalkan atau menghilangkan pembentukan limbah.

transformation-de-substrats-d-origine-vegetale

12)  Inherently Safer Chemistry for Accident Prevention (Meminimalkan potensi terjadinya kecelakaan): Mendesain zat kimia dan bentuknya untuk meminimalkan potensi terjadinya kecelakaan kimiawi termasuk ledakan, kebakaran, dan pelepasan ke dalam lingkungan.

behavior-based-safety-419x264

Seiring berkembangnya waktu, kesadaran para pelaku industri akan konsep ini semakin berkembang. Hampir setiap industri di negara-negara maju mulai menerapkan konsep kerja ini. Sementara itu, para ilmuwan pun banyak yang mulai mengadakan penelitian mendalam mengenai segala sesuatu mengenai konsep ini. Bahkan sejak tahun 1995, diberikan penghargaan The Presidential Green Chemistry Challenge Awards, kepada individu ataupun korporat yang dianggap telah turut andil dalam memberikan inovasi dalam Green Chemistry. Semua ini, dilakukan dengan satu tujuan yaitu untuk menyelamatkan bumi kita yang tercinta ini. 

Demikian pembahasan mengenai Green Chemistry. Semoga bermanfaat!

Sumber:

P. Anatas dan J. Warner, Green Chemistry: Theory and Practice, hal. 30, Oxford University Press, New York (1998).

Comments

comments